Selalu menggunakan mode serba otomatis (di kamera sering disebut sebagai mode P) kadang bisa membosankan. Lalu bagaimana caranya kalau kita ingin ‘naik kelas’ ke level berikutnya? Langsung ke mode manual?
Tidak harus, karena di kamera ada mode semi otomatis yang bisa dipakai (jangan kuatir, di kamera poket mode ini juga ada): Aperture priority dan Shutter priority. Di kamera biasanya ditandai dengan huruf A dan S, atau Av dan Tv (aperture value & time value).
Apa itu aperture dan shutter?
Pada prinsipnya kamera bekerja begini:
Cahaya, masuk dari lensa, lalu mengenai film (kalau pakai film, kalau digital ini diganti sensor) untuk menciptakan bayangan gambar.
Terang gelapnya dan tajam tidaknya gambar tentu bergantung dari cahaya yang masuk. Jadi cahaya yang masuk ini harus diatur. Untuk itu, digunakan shutter, yang membuka dan menutup sesuai perintah kita. Bila di kamera SLR kita mendengar suara jepretan yang khas, itulah suara shutter bekerja membuka dan menutup. Nah, ketika shutter membuka inilah cahaya masuk dan menciptakan gambar.
Karena cahaya masuk berdasarkan buka tutupnya shutter, maka ada dua hal yang mempengaruhi bagaimana cahaya itu masuk: Seberapa besar shutter tersebut membuka, dan seberapa cepat.
Besar kecilnya bukaan shutter disebut sebagai aperture, dan cepat lambatnya bukaan disebut sebagai shutter speed.
Ketika kita set kamera ke otomatis, maka berdasarkan cahaya yang ada, kamera kita akan menghitung secara cepat seberapa besar aperture harus dibuka dan seberapa cepat bukaannya, untuk memberi hasil optimal. Singkatnya, komputer di kamera yang ‘menuntun’ kita agar hasil jepretan kita bagus.
Tapi tentu kamera tidak serba tahu, dan kadang kita punya keinginan yang berbeda. Sampailah kita ke mode semi otomatis Aperture dan Shutter priority. Di mode ini kita tidak lagi menyerahkan 100% kendali pada kamera kita.
Di Aperture priority kita menentukan seberapa besar bukaan aperture yang diinginkan. Bagaimana dengan kecepatan bukaannya? Kita serahkan kamera untuk menghitung, untuk memastikan foto yang didapat hasilnya optimal.
Di Shutter priority, kita menentukan seberapa cepat bukaan, sementara besar kecilnya bukaan kita serahkan pada kamera untuk menghitung.
Ini lebih mudah daripada menggunakan serba manual, di mana besarnya bukaan dan cepat lambatnya bukaan harus kita tentukan sendiri.
Lalu kapan kita menggunakan aperture priority dan kapan menggunakan shutter priority?
Seperti yang dijelaskan di sini, kita mengubah-ubah nilai aperture untuk mengatur depth of field. Jadi bila misalnya ketika memotret kita punya niat “saya ingin memotret suatu obyek, fokus pada obyek tersebut, sementara background nya saya buat blur”, maka kita bicara Aperture priority.
Bagaimana dengan shutter priority? Kalau kita memotret benda bergerak dan ingin hasilnya tajam sehingga obyek seolah membeku di tengah pergerakannya, maka tentu kita pilih kecepatan shutter yang tinggi. Sebaliknya juga sama: kalau kita ingin memotret benda bergerak, dan kita ingin sebagian dari gambar tampak blur untuk memberi efek gerakan, maka kita pilih kecepatan yang lebih rendah.
Untuk menentukan seberapa aperture atau shutter speed yang pas memang tidak mudah, tapi akan lebih mudah bila didasarkan pada pengalaman, daripada dari teori hitung-hitungan. Lagipula, ketika memotret kita sudah sibuk mengambil gambar untuk direpotkan dengan menghitung.

One Comment
Masih kok Meg, gue masih berhitung, apakah cahaya pada bukaan 1/2 itu jadinya lebih banyak atau lebih sedikit dari bukaan 1/8 ….hehehe, maklum waktu pelajaran pembagian di SD, gue bolos terus..hehehe.