Iseng-iseng ketika melihat anak-anak main kembang api, aku tergerak untuk memotret mereka, sambil membayangkan hasil foto dengan percikan-percikan api yang indah.
Tapi hasilnya benar-benar menyedihkan. Yang didapat hanya foto gelap dengan titik-titik cahaya yang menunjukkan ada tanda-tanda percikan api di sana.
Waduh kenapa ini?
Ke mana perginya percikan-percikan kembang api indah itu?

Ternyata karena kamera di-set ke otomatis: Ketika kamera ‘melihat’ percikan kembang api yang terang-benderang, ia mengira cahaya yang ada cukup banyak sehingga bukaan dan kecepatan-pun diatur secukupnya saja. Padahal kondisi cahaya di sekelilingnya gelap. Alhasil, gambarpun hitam semua.
Seharusnya kamera diperintahkan untuk membuka lebih lama agar cahaya yang masuk bisa lebih banyak dan percikan api dapat tertangkap gerakannya, sehingga membuat efek garis percikan api yang sambung menyambung.
Ubah kamera dari P (program) ke S (speed priority) dan atur kecepatan agar kamera membuka lebih lambat. Hasilnya pun beda:


Jangan lupa, karena speed di-set sangat rendah, kamera jadi rentan pada getaran, dan sedikit tangan bergetar gambar-pun jadi blur.
Bila kesulitan, topangkan tangan ke sesuatu yang stabil, atau gunakan tripod.
Cara ini adalah juga cara yang sama ketika memotret lalu-lintas Jakarta di waktu malam, di mana cahaya lampu-lampu mobil yang berlalu terlihat seperti garis cahaya yang panjang.
Coba deh. Seru, dan hasilnya juga lain dari biasanya.
