Kamera yang dipunya hanya kamera poket tanpa fasilitas dan lensa-lensa yang canggih, lampu untuk pencahayaan pun tak punya, hanya mengandalkan cahaya alam, lampu rumah dan lampu kilat yang built in…
Bisakah kita membuat foto bagus?
Hati mungkin berkata “Hmmm… mana mungkin…. Katanya kan kecanggihan kamera juga mempengaruhi hasil foto?”
Iya sih, tapi jangan kecil hati dulu, karena karya yang bagus dan kepuasan batin tidak selalu bergantung perangkat yang mahal.
Tips-tips berikut ini mungkin bisa menjadi masukan :
1. Luangkan waktu.
Semakin sering kita memotret, semakin besar kemungkinan kita menghasilkan foto yang bagus. Memotret apa? Apa saja. Dari yang biasa seperti wisuda sekolah anak, kegiatan 17-an, foto-foto liburan, sampai foto-foto yang sifatnya spontan seperti hujan yang jatuh di taman rumah, sedang jalan-jalan di komplek lalu terinspirasi melihat bunga tetangga yang sedang mekar dengan indahnya, atau melihat anak-anak yang sedang main dan tersentuh untuk mengabadikan perjalanan hidup mereka.
Apapun itu, jangan tunggu lagi: segera luangkan waktu, ambil kamera dan mulai memotret.
2. Ambil gambar sebanyak mungkin.
Kalau dulu masih menggunakan roll film untuk memoto, hobby fotografi memang terbentur dengan biaya, tapi sekarang dengan adanya kamera digital, sudah tidak ada lagi kendala untuk memotret. Mau 1 kali jepret, 20 kali jepret atau 200 kali jepret biayanya hampir sama. Jadi tak usah ragu-ragu: ambil foto sebanyak mungkin. Ketika memotret si kecil adengan stroller-nya misalnya, ambil foto sebanyak mungkin dari setiap sudut, setiap gerakan, setiap ekspresi, dari beragam jarak.
Semakin banyak foto yang diambil, semakin besar kemungkinan kita mendapat foto yang bagus. Percaya deh, dari 200 kali jepretan, yang sreg di hati mungkin hanya beberapa saja. Setelah didownload, nikmati hasilnya sebelum memilih yang terbaik untuk disimpan. Hapus yang tidak layak agar tidak membuat penuh tempat penyimpanan.

3. Buat Foto yang bercerita.
Bila kebetulan memotret suatu acara, selain memotret obyek-obyek yang biasa untuk keperluan dokumentasi, selingi dengan sedikit kreatif memotret obyek-obyek foto dengan sudut pandang berbeda dan pose yang candid, alami dan tak terlalu diatur. Jangan takut-takut untuk berpindah-pindah posisi untuk mendapatkan angle yang lebih menarik, dan jangan terpaku pada sudut-sudut pandang yang konvensional.
4. Edit foto.
Mengedit foto menggunakan peranti lunak itu bukan dosa. Bukan juga berarti ‘membagus-baguskan foto yang jelek’, justru sebaliknya: Membuat foto anda yang bagus menjadi lebih bagus lagi. Di setiap foto tersembunyi sebuah keindahan, dan peranti lunak macam photoshop dan GIMP bisa membantu kita ‘menemukan’ keindahan itu.
Ada obyek tak diinginkan tertangkap di foto? Coba hilangkan dengan crop. Cahaya kurang cerah? Coba perbaiki dengan level adjustment. Warna kurang menarik? Coba dibuat hitam putih, siapa tahu jadi lebih bagus. Lakukan ini sebelum kita memutuskan untuk menghapus file foto yang kita tidak suka.
5. Jangan mudah terpengaruh pendapat orang lain
Selera orang berbeda-beda, yang bagus menurut orang lain belum tentu bagus di mata kita, begitu juga sebaliknya. Jadi percaya diri saja. Bila hati kita puas dengan foto-foto yang kita ambil, itu sudah sebuah prestasi. Setelah itu, usahakan untuk lebih bagus lagi. Bandingkan dengan foto-foto yang terdahulu dan lihat betapa kemampuan anda meningkat seiring dengan seringnya anda memotret. Ini bisa jadi penyemangat untuk terus memotret.

2 Comments
terima kasih untuk pecerahannya
di era digital ini memingkinkan kita bisa bereksperimen dengan ratusan foto.. coba dulu kalau masih pake film…. mikir.com
salam..